Ketergantungan manusia dengan ponselnya sudah memasuki tahap mengkhawatirkan. Tidak sedikit orang yang selalu cemas ketika tahu bahwa ia lupa membawa ponselnya.
Bahkan, ada juga yang enggan meninggalkan ponselnya dan membawanya ke mana pun, bahkan ke kamar kecil sekali pun! Ada juga ketakutan dan kepanikan yang terjadi saat seseorang mencari ponselnya yang entah terselip di mana, menimbulkan rasa paranoia yang berlebihan.
Gejala tersebut menjadi tanda-tanda umum yang dialami masyarakat yang hidup di era teknologi seperti sekarang ini. Mungkin, sebagian besar masyarakat dunia telah mengalami nomophobia (no mobile phone phobia).
Artikel terkait " Nomophobia" sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat modern dewasa ini. Sehingga ini harus menjadi perhatian cukup serius dan segera ditangani oleh para orangtua.
Jangan biarkan anak kecanduan terkait dengan ponsel atau gadget, bermula dengan buka-buka game atau permainan, dari sini kecenderungan seseorang kecanduan gadget yang kian hari makin canggih.
Satu cara untuk meninggalkan atau mengurangi kecanduan ponsel, biasakan anak untuk membaca buku-buku penting tentang agama terkait tauhid, fikih, akidah, akhlak dan membaca, mengkaji dan menghapalkan surat-surat dalam Al-quran serta memahami banyak hadits.
Tetapi sangat disayangkan, jika kebiasaan ini berasal dari contoh prilaku orangtuanya, jangan harap anak-anak mau berhenti dari kecanduan ini.
Ingat masa remaja merupakan awal pembentukkan karakteristik. Sehingga kecanduan ini tidak bisa dihentikan sampai mereka (anak-anak) masa usia tua, seperti juga saat ini orangtua sangat menyukai terhadap gadget ini.
Apakah benar kemajuan teknologi ini, merupakan daya tipu syetan, kalau memang begitu adanya, jelas-jelas ini memang dashat, sampai dari berbagai kalangan religius sebegitu terpedaya dengan kemajuan teknologi seperti ini.
Tak bisa disangkal, jaman yang penuh fenomental, entah siang atau malam siapapun yang tersandung dengan gadget, banyak orang menjadi lupa terhadap berbagai persoalan. Dari mulai mencari nafkah sampai masalah ibadah, dari mulai mencari rizki sampai duduk berzikir dan dari masalah mikro sampai makro. Ironis, kegilaan dengan barang unik ini, bukan saja dilakukan anak-anak, kakek-kakek dan nenek-nenek mereka tidak mau ketinggalan, chattingan, esemesan dan pacebokan.
Tidak dikatakan demikian, penyakit Nomophobia sudah merambah ke berbagai lapisan masyarakat, tidak ambil bulu, baik yang kaya dan yang miskin, dari tukang babat sampai pejabat, dari rakyat sampai konglomerat, tak peduli dengan harga ponsel, mau yg murah atau mahal, yang penting bisa chattingan atau Weaan, demi harga diri tentu, walau dengan sekalipun ambil kridit mereka ingin memiliki, sungguh Nomophobia sudah menghancurkan generasi masa depan bangsa, negara dan agama.
Jangan biarkan anak-anak terbelenggu dengan kehancuran dengan terindikasi gadget ini, berikan pendidikan yang baik buat kehidupan dunia dan akhirat.
Jangan jadikan anak pandai dalam ilmu pengetahuan dan teknologi tetapi mereka sangat dangkal dalam masalah akhlak dan aqidah.
Jangan jadikan anak pandai dalam masalah muamalah tetapi mereka dangkal masalah ibadah.
Jangan jadikan anak menjadi yahudian dan nashoro serta memiliki faham komunisme, radikalisme dan terorisme.
Menjadi yahudi dan nashoro hanya mengedepankan dunia tetapi tidak untuk akhirat, gaya hidupnya mirip dgn mereka baik cara mencari materi, shoping, berpakaian dan bergaulnya.
Memiliki faham komunisme, hidup ekstrim, tidak bertuhan (tidak beragama) yang bersandar pada tujuan hidup bersenang-senang dan demi kepuasan.
Menjadi radikalisme, hidup selalu makar, protes dan melawan kepada pemerintah yang berbuat baik.
Menjadi teroris, hidup menjadi ekstrim untuk mengintimidasi dan membunuh jiwa manusia yang tidak bersalah.
Jadikan anak menjadi :
Taat kepada Alloh Subhana Wata'ala
Taat kepada Rosululloh Sholallohu alaihi wassalam
Taat kepada para Ulil amri
Berbakti kepada kedua orangtua ( Abi dan Umi).











0 Comments